Saya tidak mau panjang lebar. Saya kasih angkanya saja. Kita butuh 1,6 juta barel minyak per hari. Kita hanya produksi 600 ribu barel. Sisanya 1 juta barel harus impor. Dari 1 juta barel impor itu, 250 ribu barel setiap hari berasal dari Timur Tengah dan harus lewat Hormuz.
Artinya: setiap hari, 250 ribu barel minyak untuk pabrik, mobil, dan generator kita—melewati zona perang.
Iran kabarnya memberi “lampu hijau” untuk kapal Indonesia. Tapi izin lisan di tengah perang itu tidak ada jaminannya. Hari ini boleh, besok bisa dilarang. Karena kebijakan Iran di Hormuz adalah senjata politik, bukan rambu lalu lintas.
Yang lebih mengkhawatirkan: cadangan BBM kita hanya cukup untuk 21-23 hari. Dalam kondisi normal, itu mungkin aman. Tapi dalam kondisi perang dan blokade? 21 hari adalah waktu yang sangat-sangat tipis.













