Di bawah komando Dwiki Darmawan hingga Indra Lesmana, Krakatau yang awalnya mengusung fusion justru melahirkan hits pop seperti “Amburadul”. Ambisi mereka mencampur etnik, world music, hingga genre lainnya justru membuat fondasi jazz mereka terasa “amburadul” dalam perspektif kemurnian genre.
Strategi “Menjazzkan” Lagu Pop
Fenomena di Indonesia memang unik. Banyak pemusik jazz yang justru hidup dari kemasan pop. Ireng Maulana, misalnya, sering membungkus album Ermi Kulit dengan aransemen jazz yang kental meski dasarnya adalah lagu pop. Idang Rasjidi pun setali tiga uang; ia sangat gemar “menjazzkan” lagu-lagu pop kreatif.
Kritik tajam juga mengarah pada Cut Deviana Daud Syah. Di tangannya, lagu daerah seperti “Inanikeke” bisa kehilangan jati diri aslinya. Sentuhan chord 9, 11, 13, serta sisipan diminished atau substitute chord memang terdengar canggih, namun sekaligus mencerabut lanskap alam Minahasa dari melodi tersebut. Jazz, dalam konteks ini, menjadi bumbu untuk membuat lagu pop atau daerah terasa lebih “mahal” dan “genit”.












