Oleh: Pepih Nugraha (Jurnalis Senior, Pendiri Kompasiana)
JAKARTA || Bedanews.com – Laporan koran bergengsi “The New York Times” menyebut, angka-angka yang membuat kening saya berkerut: 15 pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah hancur total, tidak layak huni dan ditinggalkan penghuninya. Whaaaat!?
Ya memang begitu isi beritanya. Jika bersandar pada laporan itu, dalam terminologi militer disebut kehancuran infrastruktur. Namun dalam kacamata kemanusiaan, itu adalah keruntuhan mental yang tak ada obatnya dalam apotek diplomasi mana pun.
Kita sering kali melihat perang sebagai deretan angka, antara lain berapa rudal yang meluncur, berapa pemimpin yang tewas, atau berapa barel minyak yang tertahan.
Namun, jika kita mau sedikit saja menurunkan ego dan melihat realitas di lapangan, kita akan menemukan kenyataan menyakitkan bagi mereka yang mengaku sebagai polisi dunia.
Amerika Serikat dan Israel datang dengan daftar belanjaan ambisius: hancurkan militer Iran, gulingkan rezim 1979, dan lucuti nuklirnya.
Waktu melesat bagai anak panah. Sebulan pun berlalu, dan daftar itu masih bersih, tak ada satu pun yang berhasil dicentang. Sebaliknya, Iran justru mengubah Timur Tengah menjadi laboratorium uji coba senjata mereka.
Jika Anda mengklaim sedang memenangkan perang, biasanya Anda tidak akan memohon gencatan senjata kepada lawan yang “sekarat”. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Washington dan Tel Aviv sibuk menyodorkan proposal damai, sementara Teheran menanggapinya dengan dingin, sedingin es di puncak Gunung Damavand. Tahu di mana gunung ini berada?
Ironisnya, setiap kali Israel berhasil membunuh seorang pemimpin elit Iran, mereka merayakannya seolah-olah perang telah usai (post festum). Mereka lupa —atau mungkin sengaja lupa— bahwa di Iran, kepemimpinan bukan soal individu, melainkan sistem yang kokoh di bawah komando Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Membunuh 30 persen pemimpin elit ternyata tidak membuat 4.000 rudal balistik berhenti menghujani aset-aset Amerika setiap tiga jam sekali. Jelas bukan perkara strategi lagi, ini tentang kualitas mental yang gagal dibaca oleh intelejen Barat.
Belum lagi soal Selat Hormuz. Jalur nadi dunia itu tetap berada dalam genggaman erat Korps Garda Revolusi. Kapal induk USS Abraham Lincoln, yang biasanya gagah perkasa, kini harus menjaga jarak aman karena ranjau laut dan drone Iran bukan lagi sekadar gertakan sambal, tapi ancaman nyata di depan mata.
Namun, tamparan paling keras sebenarnya bukan terletak pada hancurnya pangkalan militer atau gagalnya pelucutan uranium 60 persen di dasar gunung. Tamparan itu ada pada “kegagalan narasi”.
Amerika Serikat dan Israel berharap masyarakat Iran akan turun ke jalan, melakukan pemberontakan internal, dan menyambut tentara asing sebagai pembebas. Sebuah skenario klasik CIA yang biasanya manjur.
Tapi kali ini, rakyat Iran justru berdiri tegak di belakang pemerintah mereka. Agenda “regime change” yang didesain Mossad berubah menjadi lelucon di meja makan penduduk Teheran.
Di sisi lain, ekonomi Iran yang diprediksi akan runtuh ternyata masih bisa mengekspor dua juta barel minyak per hari ke China. Mereka tetap berdagang di tengah dentuman bom, sementara sekutu-sekutu AS dari UAE, Arab Saudi hingga Jordan hanya bisa menonton dengan gemetar, menyadari bahwa payung perlindungan Paman Sam ternyata bocor di mana-mana.
Kadang kala, kekalahan terbesar sebuah negara adidaya bukan terjadi saat mereka menyerah, melainkan saat mereka tidak tahu lagi cara menghentikan perang yang mereka mulai sendiri.
Amerika Serikat dan Israel saat ini berada dalam posisi yang sangat sulit. Mereka tidak bisa menang, tapi terlalu sombong untuk mengaku kalah.
Mereka terus mengklaim prestasi melalui pembunuhan tokoh, sementara di lapangan, pesawat tempur tercanggih mereka seperti F-35 justru mulai jatuh satu per satu oleh senjata baru Iran.
Amerika Serikat dan Israel seolah sedang memenangkan pertempuran di layar televisi dan media sosial, namun Iran memenangkan realitas di atas tanah dan perairan.
Inilah “kekalahan strategis” yang paling sunyi dalam sejarah modern. Sebuah kekalahan di mana sang pemenang tidak butuh pengakuan dari dunia, karena mereka cukup menunjukkan bahwa minyak tetap mengalir, nuklir tetap terjaga, dan sirine di Tel Aviv tetap berbunyi tanpa henti.
Mungkin, sudah saatnya kita berhenti percaya pada dongeng tentang “kekuatan tak terkalahkan” dan mulai belajar bahwa di Timur Tengah yang baru, do’a-do’a di dasar gunung ternyata lebih kuat daripada anggaran militer miliaran dolar.
Begitulah. Ternyata, tidak semua pesta berakhir dengan sorak-sorai kemenangan bagi sang penyelenggara. Kadang, ia berakhir dengan tagihan yang tak sanggup dibayar oleh mereka yang memesannya. ***











