Dalam sambutannya, Cak Imin menegaskan bahwa, jurnalisme adalah suluh peradaban—motor perubahan yang membuka kabut kebingungan zaman. Ia mengingatkan bahwa, pers tidak boleh kehilangan ruh kemanusiaannya di tengah gempuran teknologi.
Menurutnya, jurnalisme yang sepenuhnya diserahkan kepada Akal Imitasi (AI) berisiko kehilangan empati, verifikasi dan etika. “Tanpa verifikasi dan etika, ia hanya akan melahirkan berita-berita halusinasi. Tanpa keberpihakan pada kebenaran, jurnalisme akan menjauh dari publiknya sendiri”.
Pers, tegasnya, tidak boleh kalah oleh algoritma. Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan pengganti nurani. Kekuatan pers tetap bersumber pada daya kritis, keberimbangan dan tanggung jawab publik.
Ketidakhadiran Presiden Prabowo di HPN 2026, tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai pengabaian terhadap pers. Namun, di tengah kondisi pers yang sedang tidak baik-baik saja, kehadiran langsung Kepala Negara tetap memiliki makna simbolik dan psikologis yang besar bagi insan pers.













