Sementara Pimpinan Redaksi Radar Lampung, Taufik Wijaya, SE mengatakan bahwa, dunia pendidikan saat ini sangat rawan disusupi oleh paham radikal dan terorisme, salah satu penyebabnya adalah minimnya pelajaran terkait Penanggulangan/ penanganan radikalisme dan terorisme terutama di level menengah ke bawah. Bahkan level mahasiswa yang notabene adalah ujung tombak dari generasi muda bangsa, pendidikan mengenai bahaya radikalisme sangat minim diberikan.
Taufik Wijaya, juga mengatakan, beberapa fakultas hanya memberikan 1 pelajaran Pancasila dengan bobot hanya 2 atau 3 Satuan Kredit Semester (SKS) selama mereka menempuh pendidikan. Sementara pelaku radikalisme dan terorisme sangat masif mempromosikan pemahaman radikal.
Oleh karena itu, butuh perhatian dari stakeholder terkait, khususnya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sampai dengan level sekolah. “Harus ada semacam terobosan yang bisa membuat para siswa memiliki semacam tameng untuk mengantisipasi masuknya paham radikalisme,” ujarnya.













