Dalam bukunya Paradigma Hubungan Internasional Islam, Syafruddin menyampaikan pandangan moderat antara paradigma yang terlalu materialistis dengan siasah dauliah. Syafruddin memandang hubungan internasional bukan sekedar penerapan taktik strategi melainkan pengedukasian nilai luhur agama dan budaya.
Kemudian dalam bukunya Politik Hukum Islam Indonesia, Syafruddin menawarkan gagasan bahwa bangsa Indonesia perlu mengokohkan pengamalan agamanya untuk membentuk jatidiri bangsa yang lebih terhormat di mata dunia internasional. Lalu dalam buku kebangsaan, Syafruddin mengatakan bahwa Indonesia dapat menjadi lokomotif peradaban dunia dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keindonesiaan, yaitu religius, gotong royong, dan cinta pada tanah air.
Dalam orasi ilmiah Syafruddin mengatakan penganugerahan gelar doktor kehormatan ini diharapkan dapat mengukuhkan dan memperdalam cara pandang membangun peradaban, khususnya dalam konteks hubungan dunia internasional yang islami.













