Manifesting yang Membumi
Menariknya, proposal hidup ini tidak hanya berisi tentang kesuksesan duniawi semata. Generasi Z membawa isu-isu eksistensial ke atas sajadah. Mereka memanifestasikan kedamaian hati di tengah tekanan ekonomi, memohon keteguhan prinsip di tengah gempuran tren media sosial yang dangkal, hingga mendoakan isu-isu global seperti keadilan di Palestina menjadi bentuk spiritualitas yang cerdas dan menyadari bahwa keberhasilan tidak akan sempurna tanpa keberkahan. Dengan menyusun proposal hidup di malam Lailatul Qadr, akan menjadikan hidup lebih selaras antara ambisi pribadi dengan ridha Ilahi.
Upaya menyusun proposal hidup ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh filsuf besar Persia, Al Ghazali, yang menekankan bahwa doa bukanlah sekadar permintaan, melainkan gerbang menuju penyingkapan hakikat jiwa. Dalam pandangan Al-Ghazali, ketika kita menuliskan niat dengan penuh kesungguhan, kita sedang membersihkan cermin hati agar mampu menangkap cahaya ketetapan Tuhan dengan lebih jernih. Di sisi lain, filsuf Barat , adalah Baruch Spinoza dalam pemikirannya tentang Conatus, menyampaikan bahwa daya upaya setiap makhluk untuk bertahan dan berkembang mengingatkan pada dorongan kodrati untuk mencapai kesempurnaan. Menyusun prayer list adalah bentuk tertinggi dari Conatus, sebuah upaya sadar untuk menyelaraskan kehendak kecil dengan kehendak semesta yang agung. Sebagaimana Friedrich Nietzsche dengan konsep Amor Fati nya, Generasi Z tidak hanya menerima takdir, melainkan mencintai takdir yang sedang dijemput dengan kesungguhan doa.













