Oleh: Lilis Sulastri
Ciwidey – Di kalangan Generasi Z, istilah manifesting atau memanifestasikan impian telah menjadi bahasa harian dan tren media sosial. Dari papan visi (vision board) di Pinterest hingga jurnal harian yang penuh dengan afirmasi positif, anak muda hari ini sangat percaya pada kekuatan niat yang dituliskan. Namun, ketika Ramadan memasuki sepuluh malam terakhir, konsep manifesting ini mengalami eskalasi spiritual yang luar biasa. Lailatul Qadr tidak lagi hanya dipahami sebagai malam ritual statis yang diisi dengan pengulangan kalimat tanpa makna, melainkan malam penetapan takdir pada sebuah ‘meja perundingan’ suci di mana seorang hamba datang membawa proposal hidupnya yang paling jujur.
Evolusi Ibadah Digital
Bagi generasi yang terbiasa dengan struktur data, efisiensi kerja, dan perencanaan matang, berdoa di malam Lailatul Qadr era kini tentu melibatkan persiapan yang jauh lebih serius. Fenomena penggunaan aplikasi manajemen tugas seperti Notion, Evernote, atau jurnal fisik yang estetik bukan lagi pemandangan asing di sudut-sudut masjid. Mereka tidak datang dengan tangan kosong, mereka datang dengan Prayer List yang terorganisir secara sistematis.













