Oleh : Lilis Sulastri
Antara Resesi dan Antrean Kopi Susu
Belakangan ini, kita sering disuguhi berita tentang ancaman resesi ekonomi global. Harga bahan
bakar naik, inflasi merangkak, nilai tukar rupiah tertekan, dan banyak perusahaan mulai melakukan efisiensi dengan merumahkan karyawan. Jika membaca data makroekonomi, seharusnya kita semua menarik napas panjang dan mulai mengencangkan ikat pinggang. Tapi coba lihat ke luar jendela, atau sekadar buka Instagram Stories. Ada yang aneh saat ini, kafe- kafe kekinian tetap ramai. Antrean panjang di gerai kopi premium masih terjadi setiap pagi dan sore. Teman-teman kantor masih dengan semangat memesan kopi susu seharga Rp45.000 per gelas, lengkap dengan foam art yang cantik, lalu difoto dari berbagai sudut sebelum diseruput. Mengapa? Bukankah seharusnya di saat ekonomi sulit, orang justru berhenti membeli barang- barang yang tidak esensial? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu. Fenomena yang memiliki nama sendiri dalam dunia ekonomi perilaku Lipstick Effect atau dalam ejaan populer di Indonesia Lipstik Effect.













