Senada dengan Firman, Sopandi yang juga ikut dalam kawah candradimuka ini merasa “tertampar” secara positif. Datang dengan kepercayaan diri tinggi, ia justru menemukan fakta bahwa dunia jurnalistik jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. “Ternyata masih banyak yang harus dipelajari. Di sini saya mendapat banyak ilmu baru,” tuturnya rendah hati.
Menanggalkan Stigma “Lusuh”
Penutupan acara ini bukan sekadar seremoni. Direktur UKW PWI, Dr. Aat Surya Safaat, menitipkan pesan mendalam yang menyentuh sisi personal seorang jurnalis. Ia menekankan bahwa wartawan adalah kaum intelektual yang dikenal melalui tulisannya.
“Membaca dan menulis tidak bisa dipisahkan. Wartawan harus punya byline sebagai identitas diri,” tegas Aat. Namun, ia juga tak lupa menyentil aspek penampilan. Menurutnya, sudah saatnya stigma wartawan berpenampilan lusuh ditinggalkan. Etika dan performa saat bertemu narasumber adalah cermin profesionalisme masa kini.













