Sejumlah tokoh nasional dan daerah turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Prof. Dr. Aan Jaelani, Prof. Ganzar Razuni, Prof. Dr. Henry Indraguna, Dr. Muhammad Burhanudin, Prof. Dr. Sutarman, hingga Ety Herawati.
Dalam sambutannya, dr. Asad menegaskan bahwa Reformasi tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan semata, melainkan harus menjadi momentum evaluasi kebangsaan dan refleksi bersama terhadap arah perjalanan bangsa.
“Reformasi 1998 telah membuka ruang demokrasi yang lebih luas, namun Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan mendasar, seperti ketimpangan sosial, lemahnya integritas hukum, serta menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan bangsa saat ini tidak cukup dijawab melalui pendekatan politik dan ekonomi semata, tetapi juga membutuhkan penguatan moralitas, etika kepemimpinan, serta budaya intelektual di tengah masyarakat.













