Selama bertahun-tahun sebelumnya, ia hanya menumpang listrik dari tetangga. Tak bebas menyalakan lampu, tak leluasa menggunakan perangkat elektronik. Setiap pemakaian terasa seperti beban, setiap saklar yang ditekan selalu disertai rasa sungkan.
Kini, untuk pertama kalinya, ia tak perlu lagi menunggu izin atau merasa tak enak hati.
“Sudah lama saya ingin punya listrik sendiri. Selama ini cuma menumpang ke tetangga, jadi tidak enak hati kalau terlalu banyak menyalakan lampu dan perangkat elektronik,” ujar Mbah Castem dengan mata berkaca-kaca.
Menurutnya, memiliki sambungan listrik mandiri bukan hanya soal terang, tetapi juga soal kenyamanan dan harga diri.
“Kadang kalau cucu saya masih belajar, saya sudah kepikiran takut merepotkan. Mau pakai alat listrik juga jadi tidak bebas. Rasanya seperti bukan rumah sendiri,” lanjutnya pelan.













