Mengapa pergulatan ini terasa begitu mengguncang? Sosiolog agama Rodney Stark dalam bukunya Micro-Foundations of Religious Conversion (New York: Routledge, 2009, hlm. 88) menjelaskan bahwa konversi agama di tingkat individu selalu melibatkan akumulasi krisis kognitif (cognitive dissonance). Ketika seseorang merasa ada jarak lebar antara idealisme ajaran ilmiah yang dipelajarinya di bangku kuliah dan kenyataan hidup sehari-hari, retakan emosional itu mulai terbentuk. Dari titik retak itulah interaksi baru dengan komunitas agama lain—yang menawarkan narasi kedamaian atau penerimaan personal—mulai memegang peranan kunci.
Di balik fenomena ini, kita diajak untuk melihat manusia bukan sekadar statistik atau label status sosial semata, melainkan sebagai jiwa-jiwa yang terus bergulat mencari tempat berteduh. Perpindahan iman alumni lembaga besar seperti Al-Azhar adalah cermin rumitnya lanskap psikologi agama modern: bahwa pengetahuan teologis yang tinggi sekalipun tak pernah sepenuhnya mengunci arah pencarian hati nurani manusia.***













