Oleh: M.R. Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Cangkir kopi hitam di sudut kedai kawasan Tebet itu mendidih tipis saat seorang pemuda bercerita tentang masa lalunya di Kota Para Menara. Panggil saja dia Rehan. Ia mengingat betul panasnya terik matahari Kairo, riuhnya riwayat hadis di ruangan kuliah Universitas Al-Azhar, dan harumnya kitab-kitab bergaya turats. Namun, di balik seragam jubah dan kebanggaan alumni kampus Islam tertua dunia itu, ada badai sunyi yang tak pernah dicatat dalam brosur penerimaan mahasiswa baru.
Rehan adalah satu dari sekian banyak potret penjelajah spritual yang memilih berbalik arah. Berpindahnya keyakinan—sebuah langkah ekstrem dari menjadi pembela ajaran menjadi pemeluk Kristen—sering kali dianggap petir di siang bolong bagi keluarga dan masyarakatnya. Namun, fenomena pergeseran iman di kalangan intelektual agama bukanlah fenomena fiktif yang hadir tanpa jejak sejarah dan dinamika sosio-psikologis yang nyata.













