Dalam lipatan sejarah sosiologi agama, pengalaman pergulatan batin seperti ini direkam dengan tekun oleh berbagai ilmuwan global. Peneliti Mesir-Amerika, Samuel Zwemer, dalam karyanya The Law of Apostasy in Islam (London: The Marshall Brothers, 1924, hlm. 42) melukiskan bagaimana perbenturan intelektual, krisis eksistensial, serta kekecewaan terhadap realitas politik-sosial umat sering menjadi pintu masuk utama pencarian teologis baru. Perjalanan itu jarang dimulai dari kebencian, melainkan dari tumpukan pertanyaan yang tak kunjung menemukan muara yang menentramkan.
Pergolakan ini kian tajam ketika diuji di medan modernitas. Pengamat Islam kontemporer, Brother Andrew dan Al Janssen, dalam dokumentasi etnografis Light Force: The Can-Do Faith That Initiates Change in the Middle East (Grand Rapids: Fleming H. Revell, 2004, hlm. 115), menggambarkan betapa kompleksnya dinamika batin para pencari Tuhan di Timur Tengah. Ketika seorang penuntut ilmu agama terpapar pada pengalaman personal yang intens, perjumpaan antarbudaya, atau teks-teks pembanding, struktur keyakinan lama yang semula tampak kukuh dapat mengurai secara perlahan.













