“Kami datang selain untuk menjalin komunikasi, juga ingin membangun kerja sama ke depan. KWI merupakan wadah Gereja Katolik di Indonesia, sehingga kami berharap berbagai kebutuhan pembinaan prajurit dan keluarga Katolik dapat dikoordinasikan melalui jalur yang tepat,” ujar Jaeetul.
Menurutnya, pembinaan mental memiliki posisi strategis bagi prajurit TNI AU. Karena itu, rumah ibadah di lingkungan TNI AU tidak hanya diharapkan menjadi tempat pelayanan keagamaan, tetapi juga pusat pembinaan moral, solidaritas sosial dan moderasi beragama.
Ia menegaskan pentingnya menjaga agar kehidupan keberagamaan prajurit tetap berada dalam koridor moderasi dan memperkuat komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ketua KWI Mgr. Antonius Subiyanto Bunyamin, OSC, menyambut positif langkah TNI AU tersebut. Ia menilai TNI AU selama ini menunjukkan perhatian kuat terhadap pembinaan kehidupan beragama prajurit dan menjadi salah satu contoh dalam penerapan moderasi beragama di lingkungan TNI.













