“Pertanyaannya, kenapa harus menduplikasi Malioboro? Kenapa tidak berinovasi atau berkreasi untuk memiliki identitas sendiri dengan ikon tersendiri? Sebagai kota yg memiliki title kota santri dan berstatus sebagai kota industri dan jasa,” cetus Ardiana.
Alasan berikutnya, mengapa PMII mengatakan bahwa proyek dari pemkot ini tidak merakyat. Karena (applicated) tidak memiliki semangat pemerataan pembangunan. Pihaknya bisa melihat dengan kentara bahwa pembangunan-pembangunan dikota tasikmalaya cenderung terpusat.
“Coba saja lihat dibeberapa kecamatan (diluar pusat kota) pemerintah cenderung abai dan tidak mau menyentuh untuk membangun peradaban yang maju,modern diwilayah itu. Artinya yang direvitalisasi, dan direnovasi hanya pusat kota saja, sementara yang lain kurang diperhatikan,” tuturnya.













