“Dan yang harus dimengerti bahwa estetika tidak lebih penting dari berdialektika. Maka saya bersama rakyat dan mahasiswa siap untuk menantang debat terbuka dengan walikota, sekda & OPD lainnya khususnya PUPR untuk berdebat mengenai penataan kota dan semi pedestrian,” tambahnya.
Ardian menyebut, jika ditarik konteks pedestrian yang tidak realistis ini ke Jalan HZ Cihideung sebagai pusat transaksi atau perputaran ekonomi kota Tasikmalaya, yang menurut Walikota Muhammad Yusuf dengan percaya dirinya akan dijadikan persis malioboro.
Padahal, sudah jelas bahwa antara jalan HZ dan Malioboro memiliki perbedaan konteks, baik secara historis maupun kultural. Kalau Malioboro jelas berdekatan dengan objek wisata yang memang dengan itu bisa menarik para pengunjung baik dari wisatawan lokal, nasional maupun internasional untuk berkunjung menikmati kuliner, kreasi seni dll disana. belum lagi malioboro dikarunai suatu perjalanan historis yang panjang, serta memiliki ikon yang unik & menarik.













