• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Rabu, September 30, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home ยป Kota Wali yang Tersedak Remang-Remang

Kota Wali yang Tersedak Remang-Remang

Asep Budi by Asep Budi
29 September 2026
in Ragam
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

 

Oleh: Muhammad Rofik Mualimin

YOGYAKARTA || Bedanews.com – Malam belum terlalu larut di Demak, tetapi riuh musik dangdut bass tinggi sudah saling beradu dari balik bangunan liar beratap seng di pinggir jalur pantura. Dari celah dinding triplek yang mulai lapuk, aroma tajam alkohol murahan tercium, berbaur dengan asap rokok dan wangi parfum menyengat. Sekitar sepuluh meter dari sana, sebuah menara masjid berdiri megah dalam sunyi. Fenomena ini bukan lagi sekadar pemandangan sporadis, melainkan sebuah rutinitas harian yang memperlihatkan kontradiksi tajam di tanah yang dikenal sebagai jantung peradaban Islam Jawa.

BeritaTerkait

4 Bulan Berlalu, Orang Tua Siswi SMKN 1 Korban Pembunuhan di Nias Utara Mohon Bantuan Presiden Prabowo

30 September 2026

Danantara Fokus Tuntaskan LRT City dan Lindungi Kepastian Konsumen

30 September 2026

Demak, yang secara historis memegang predikat Kota Wali sebagai pusat penyebaran agama dan simbol keluhuran moral, kini berhadapan dengan ekspansi industri hiburan tak berizin, peredaran minuman keras (miras), serta perjudian toto gelap (togel) yang merambah hingga ke pelosok desa. Di warung-warung kopi akar rumput, lembaran kertas kecil berisi coretan angka tebakan kerap menjadi bahan diskusi yang lebih hangat dibandingkan isu harga bahan pokok. Kehadiran praktik-praktik ini tidak hanya mengubah lanskap sosial, tetapi juga menguji daya tahan tatanan kultural masyarakat lokal.

Secara sosiologis, menjamurnya hiburan remang-remang dan perjudian di wilayah yang memiliki basis keagamaan kuat merupakan bentuk komodifikasi ruang dan distorsi adaptasi ekonomi. Sebagaimana dijelaskan oleh Clifford Geertz dalam karya klasiknya The Religion of Java (Glencoe: The Free Press, 1960, hlm. 121), dinamika sosial di Jawa sering kali memperlihatkan pergeseran nilai ketika tekanan ekonomi bergesekan dengan norma keagamaan lokal. Geertz mencatat bahwa simbol keagamaan dapat mengalami penurunan efektivitas kontrol sosial manakala jaringan ekonomi informal menawarkan ruang bertahan hidup yang lebih instan bagi masyarakat marjinal.

Pergeseran ini melahirkan krisis identitas kultural. Islamisasi di Demak yang secara historis dibangun melalui pendekatan substantif dan kultural kini berhadapan dengan erosi moralitas publik. Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah* (Beirut: Dar al-Fikr, 1988, hlm. 142) memperingatkan bahwa ketika suatu wilayah mulai diwarnai oleh kemewahan instan, kemerosotan perilaku, dan pembiaran terhadap pelanggaran norma, maka daya tahan sosial (‘ashabiyah) dari masyarakat tersebut akan mengalami pelemahan secara gradual dari dalam.

Ketidakmampuan regulasi lokal dalam menertibkan arena hiburan liar dan perjudian juga memantulkan pandangan pakar hukum Belanda, Jan Michiel Otto, dalam Sharia Incorporated: A Comparative Overview of the Legal Systems of Twelve Muslim Countries in Past and Present (Leiden: Leiden University Press, 2010, hlm. 415). Otto menegaskan bahwa positivisasi hukum atau perda bernuansa moral sering kali gagal di lapangan apabila tidak didukung oleh penegakan hukum yang konsisten serta pemahaman terhadap struktur ekonomi politik akar rumput. Tanpa penegakan yang tegas, aturan hanya menjadi dokumen administratif, sementara realitas di lapangan berjalan menurut hukum pasarnya sendiri.

Fenomena ini pada akhirnya bukan sekadar persoalan moralitas individu, melainkan cermin dari ketimpangan penataan sosial dan ketegangan antara identitas sejarah dengan realitas ekonomi modern. Jika pembiaran terus berlangsung, julukan Kota Wali berisiko menjadi sebatas narasi nostalgia di tengah riuh musik karaoke dan kepulan asap remang-remang yang kian tak terbendung.***

Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Previous Post

Setwan Jabar Buka Saluran Aspirasi 24Jam. Tapi Dewan Ingatkan Tidak Memicu Harapan Palsu.

Next Post

Tak Pernah Utang, Nama Pegawai/Keluarga Dicemarkan Oknum Pinjol Lewat Medsos PT Bandung

Related Posts

Ragam

4 Bulan Berlalu, Orang Tua Siswi SMKN 1 Korban Pembunuhan di Nias Utara Mohon Bantuan Presiden Prabowo

30 September 2026
Ragam

Danantara Fokus Tuntaskan LRT City dan Lindungi Kepastian Konsumen

30 September 2026
Ragam

KETIKA NEGARA KEHILANGAN ORANG-ORANG TERBAIKNYA: Meritokrasi, Integritas, dan Pelajaran dari Why Nations Fail

30 September 2026
Ragam

Ketua Bidang Dakwah PBMA Dr. Hasani, Raih Gelar Profesor Tafsir Maqasidi

30 September 2026
Ragam

Jeritan dari Pinggir Pantura: Ketika Laut Memakan Rumah Kami

30 September 2026
News

TJSL BRI Peduli Bantu Renovasi Rumah Keluarga Risiko Stunting di Ciamis

30 September 2026
Next Post

Tak Pernah Utang, Nama Pegawai/Keluarga Dicemarkan Oknum Pinjol Lewat Medsos PT Bandung

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021