Dalam konteks inilah saya menawarkan gagasan *Diplomasi Konvergensi.*
Diplomasi Konvergensi bukan berarti militerisasi diplomasi. Sebaliknya, ia adalah cara berpikir strategis yang menempatkan diplomasi sebagai bagian dari orkestrasi seluruh instrumen kekuatan nasional.
Ketika Indonesia mengembangkan hilirisasi mineral, misalnya, kebijakan itu tidak hanya berdimensi ekonomi. Ia berkaitan dengan industri, teknologi, rantai pasok, daya tawar perdagangan, dan kemandirian strategis.
Ketika Indonesia membangun kemampuan satelit, pusat data, dan pertahanan siber, hal itu bukan sekadar proyek teknologi. Ia berkaitan dengan perlindungan infrastruktur kritis, ketahanan nasional, dan kedaulatan.
Ketika Indonesia memperjuangkan kepentingan dan prinsip politik luar negerinya melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, diplomasi tersebut juga berhubungan dengan kredibilitas, legitimasi, serta posisi Indonesia dalam pergaulan internasional.













