Kita tidak harus memilih menjadi bagian dari satu kutub. Politik luar negeri Indonesia tetap memiliki ruang untuk bekerja sama dengan berbagai kekuatan, sambil mempertahankan kepentingan nasional, kedaulatan, dan prinsip bebas aktif.
Karena itu, tantangan terbesar kita bukan semata-mata membangun senjata baru.
Tantangan terbesar kita adalah membangun cara berpikir baru.
Prajurit di perbatasan, diplomat di meja perundingan, insinyur di pusat teknologi, akademisi di ruang riset, pelaku industri, petani, nelayan, dan pengambil kebijakan harus melihat kepentingan nasional dalam satu kesatuan strategis.
Kita tidak boleh lagi melihat kekuatan bangsa sebagai bagian-bagian yang berjalan sendiri.
Kita harus mampu mengubahnya menjadi kekuatan yang saling memperkuat.













