Gubernur pun menegaskan agar jangan menjadi generasi yang pintar tapi julid. “Itu harus dihadirkan di dunia pendidikan. Kepala sekolah dan guru jangan hanya kaku pada kurikulum yang baku. Murid memiliki karakter berbeda. Guru harus niti surti alias sensitif, jangan semua siswa disamakan. Masalah kepintaran hanya numerik,” tegasnya.
Jawa Barat, tambahnya, mendapat apresiasi dari Kemendikbudristek terkait tiga program Merdeka Belajar, yakni literasi, numerasi, dan karakter. “Nomor tiganya (pendidikan karakter) Jabar sudah sangat siap sehingga ini menjadi sebuah percontohan. Simbolisasinya dalam bentuk tugu tentang model belajar Jabar Masagi yang pancasilais. Itu ditunjukkan dalam proses pembelajaran. Insya Allah, orang tua tenang menitipkan anaknya bersekolah di Jabar karena pendidikan karakternya dilatih serius,” pungkasnya.













