“Sudah berpuluh-puluh tahun daerah ini seperti terisolir. Dulu ada perahu penyeberangan manual, tapi sudah hanyut terbawa arus,” ungkapnya.
Akibat tidak adanya jembatan, warga yang ingin menuju Desa Ngombak atau sebaliknya harus memutar jauh melalui Kecamatan Kedungjati. Perjalanan yang sebenarnya dekat itu berubah menjadi rute panjang yang melelahkan.
Daryanto mengungkapkan, bila lewat Kedungjati jaraknya bisa sampai sekitar 12 kilometer. Perjalanan bisa 20 menit lebih hanya untuk sampai ke Ngombak. Kini bisa ditempuh hanya sekitar 5 menit.
Kondisi tersebut juga dirasakan oleh anak-anak sekolah. Setiap hari mereka harus menempuh perjalanan lebih jauh karena tidak adanya jalur langsung yang menghubungkan dua Desa.
“Sekarang anak-anak sekolah bisa lewat sini, tidak perlu mutar jauh lagi ke Kedungjati,” lanjutnya.












