“Terima kasih telah dibangun jembatan ini. Warga sudah berpuluh-puluh tahun menunggu adanya jembatan ini,” kata Wartoyo dengan nada penuh syukur.
Ia mengenang bagaimana dahulu masyarakat harus berjuang untuk sekadar menyeberangi sungai. Warga pernah membuat rakit sederhana yang ditarik secara manual menggunakan tali dari dua sisi sungai. Namun cara itu tetap penuh risiko dan tidak selalu bisa digunakan.
Sebelumnya warga pernah memakai rakit yang ditarik manual untuk menyeberangi. Apabila arus sungai deras, rakit tidak bisa dipakai. Sekarang dengan adanya jembatan ini akses warga jadi jauh lebih mudah.
“Semoga bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar sini,” ungkap Wartoyo.
Cerita serupa disampaikan Daryanto warga Kentengsari, salah seorang warga yang telah lama tinggal di kawasan tersebut. Ia menuturkan bahwa sebelum jembatan dibangun, wilayah itu seperti terisolasi oleh Sungai Tuntang.












