Fenomena ini juga sejalan dengan pembacaan tariqat kebudayaan. Dalam karya monumental Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (New York: Crossroad, 1989, hlm. 253), dijelaskan bahwa keindahan (al-jamal) adalah salah satu manifestasi Ilahi yang paling efektif untuk menyentuhkan jiwa manusia pada Kesadaran Agung. Musik yang membawakan pesan kesucian, seperti karya-karya Bocelli, bekerja persis di tataran tersebut—ia menyentuh fitrah manusia yang paling dalam tanpa perlu menggurui.
Melihat kiai dan cendekiawan Muslim berdiri menyambut pesan perdamaian Bocelli memberikan sinyal kuat: Indonesia adalah rumah besar bagi dialog peradaban. Senada dengan pandangan Taro Kono dalam Japan and the Middle East: Remaking Diplomacy (Tokyo: Japan Times Press, 2018, hlm. 112), diplomasi kebudayaan dan seni (cultural diplomacy) acapkali lebih ampuh melunakkan ketegangan geopolitik dan sosial ketimbang retorika politik formal.













