Dukungan para ulama dan cendekiawan Muslim Indonesia terhadap konser sang maestro tuna-netra asal Italia ini mungkin mengejutkan sebagian pihak. Namun, jika dibaca dengan mata hati dan kejernihan sosiologis, langkah ini adalah terobosan kebudayaan yang teramat bernilai. Masyarakat kita hari ini sering kali terkoyak oleh polarisasi ideologis dan prasangka sektarian yang melelahkan. Di tengah kebisingan itu, seni dan keindahan hadir sebagai pemungut puing-puing kesatuan yang berserakan.
Secara akademis, dukungan para tokoh Islam ini menemukan pijakan teologis dan humanis yang kokoh. Sebagaimana ditegaskan oleh M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996, hlm. 345), Islam pada hakikatnya memandang manusia sebagai saudara dalam kemanusiaan (ukhuwah insaniyyah). Persaudaraan ini melampaui batas geografis dan keyakinan, menuntut kita untuk aktif membangun jejaring perdamaian dunia.













