Melalui resonansi suara Bocelli di Borobudur dan Jakarta, kita diingatkan kembali pada akar kebangsaan kita yang sarat dengan tenggang rasa. Konser ini bukan sekadar panggung hiburan borjuis, melainkan medium pembebasan emosional tempat warga bangsa merayakan nilai kemanusiaan universal. Ketika suara tenor itu melengking tinggi menyuarakan kasih sayang, ruang batin kita disembuhkan dari luka-luka perpecahan. Para ulama kita paham betul: menyelamatkan kemanusiaan adalah inti dari menjaga agama itu sendiri.***
Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren di Bantul Yogyakarta.













