Bandung, BEDAnews – Nuansa khidmat dan semarak menyelimuti Masjid An Nur Komplek Griya Cempaka Arum (GCA), Kelurahan Rancanumpang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan pada Jumat (11/9/2026).
Dihadiri oleh warga setempat, acara keagamaan ini turut menghadirkan penceramah KH Effendi Rahmat, M.Ag., yang mengupas tuntas sejarah serta hukum memperingati hari lahir Rasulullah SAW secara objektif dan mendalam.
Dalam sambutannya, Ketua DKM Masjid An Nur, Dedi Muttaqien, menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada panitia serta seluruh pihak yang telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya demi menyukseskan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW ini.
”Semoga kita semua bisa memetik hikmah dan kebaikan dari kegiatan Maulid Nabi SAW ini untuk meningkatkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Bukan cuma bagi generasi tua, melainkan juga generasi muda, terutama anak-anak kita,” ujarnya.
Memasuki acara inti, KH Effendi Rahmat memaparkan dalam tausiahnya bahwa secara historis, istilah dan perayaan Maulid Nabi tidak ditemukan pada zaman Nabi Muhammad SAW maupun generasi awal Islam.
Fakta sejarah mencatat bahwa peringatan tersebut belum pernah dilakukan oleh Nabi, para sahabat, tabi’in, maupun para imam mazhab era salaf.
Perayaan ini baru mulai muncul pada abad ke-4 atau ke-5 Hijriah, dan semakin populer pada masa Sultan Salahuddin al-Ayyubi pada abad ke-6 atau ke-7 Hijriah guna membangkitkan kembali semangat jihad umat Islam.
Lebih lanjut,KH. Effendi Rahmat menjelaskan bahwa Rasulullah SAW sendiri tidak pernah merayakan hari kelahirannya melalui acara seremonial khusus.
“Nabi Muhammad SAW memperingatinya setiap hari Senin yang merupakan hari kelahirannya dengan cara berpuasa sunnah dan bersyukur kepada Allah SWT,” tuturnya.
Menanggapi perbedaan pandangan di tengah umat, KH Effendi Rahmat menguraikan dua sudut pandang ulama besar dunia Islam secara bijak yakni
Pendapat Sebagian ulama memandang perayaan Maulid sebagai bentuk bid’ah karena ketiadaan contoh langsung dari Rasulullah SAW dan generasi awal Islam.
Pandangan Mayoritas Ulama dikalangan Madzhab Syafi’i mengategorikannya sebagai bid’ah hasanah atau tradisi positif yang diperbolehkan, dengan syarat diisi kegiatan bermanfaat seperti membaca sirah Nabawiyah, bersholawat, bersedekah, dan mendengarkan pengajian tanpa unsur kemaksiatan.
KH.Effendi, menekankan bahwa esensi utama peringatan Maulid adalah memfokuskan diri pada upaya meneladani akhlak mulia dan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Hakikat penting dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW antara lain Menumbuhkan Cinta kepada Rasulullah dengan cara menjadi sarana mengenang kembali perjuangan dan pengorbanan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan Islam.
Meneladani Akhlak Mulia dan mengajak umat Islam untuk menerapkan sifat jujur, amanah, dan kasih sayang Nabi.
Membiasakan Membaca Al-Qur’an: Memastikan kecintaan kepada Rasul dibarengi dengan komitmen mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an.
Memperbanyak Shalawat: Menjadikan bacaan shalawat sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengharapan syafaat di hari akhir.
Di sela-sela ceramahnya, KH.Effendi juga berpesan kepada para jamaah untuk meningkatkan dan memperbanyak baca Al Qur’an.
“Ayo para jamaah tingkatkan keimanan kita dengan memperbanyak baca Al-Qur’an, walaupun sehabis shalat satu ayat tidak apa-apa, yang penting tiap hari kita baca Al-Qur’an.”
Acara ditutup dengan doa bersama dan pembacaan shalawat yang menggema di seluruh penjuru masjid, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh warga GCA yang hadir.













