Menurut Haedar, Muhammadiyah dan media massa mempunyai kesamaan keprihatinan, komitmen dan pandangan mengenai persoalan-persoalan bangsa yang memang harus dihadapi bersama oleh kekuatan masyarakat sipil.
“Menghadapi pemilu 2024 tidak cukup hanya membiarkan proses politik itu terjadi secara pragmatis tetapi bagaimana pemilu juga membawa nilai, politik demokrasi yang substantif sekaligus mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Semua itu memerlukan pengawalan, panduan dan kritik dari kekuatan masyarakat, Muhammadiyah, ormas-ormas bangsa dan bahkan media,” tegas Haedar.
“Kritik juga diikuti dengan tawaran langkah-langkah strategis dan praktis,” imbuhnya.
Silaturahmi dengan pimpinan media massa ini pertama kali dilakukan setelah Muktamar Muhammadiyah ke-48 pada 18-20 November 2022 di Surakarta dilaksanakan.













