Ia menjelaskan, situasi menjadi semakin krusial ketika konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu rantai pasok energi global, terutama di jalur vital seperti Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.
“Gangguan sekecil apa pun di kawasan itu bisa langsung berdampak pada harga dan pasokan minyak global. Bahkan tanpa gangguan fisik, hanya peningkatan risiko saja sudah cukup mengguncang pasar,” jelasnya.
*Ketergantungan Impor Jadi Titik Lemah*
Silaen menegaskan bahwa, persoalan utama Indonesia bukan semata pada kapasitas cadangan, melainkan tingginya ketergantungan terhadap impor energi. Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak mentah dan BBM per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik.
“Kondisi ini menciptakan dua risiko sekaligus, yaitu gangguan suplai dan lonjakan harga. Ketika distribusi terganggu atau harga melonjak, kita langsung terdampak secara signifikan,” tegasnya.












