Prof. Zudan menyoroti masih terbatasnya ASN dengan keahlian strategis di bidang ekonomi hijau, ekonomi biru, dan hilirisasi, padahal sektor-sektor tersebut menjadi prioritas dalam visi Asta Cita Presiden. Karena itu, menurutnya, pemetaan ulang dan redistribusi kompetensi ASN menjadi agenda mendesak agar birokrasi mampu menjadi motor pembangunan nasional.
Lebih lanjut, Prof. Zudan mengaitkan reformasi birokrasi dengan persoalan inefisiensi nasional yang tercermin dari angka _Incremental Capital Output Ratio_ (ICOR) Indonesia yang masih berada di kisaran 6,3. Menurutnya, pemanfaatan teknologi adalah kunci untuk memangkas inefisiensi tersebut. “Ke depan, birokrasi harus berjalan dengan prinsip satu sistem, satu data, dan satu produk. Tanpa itu, efisiensi hanya akan menjadi jargon,” tegasnya.













