“El Niño membuat lahan lebih mudah terbakar. Namun, api tetap membutuhkan sumber pemantiknya,” kata Samuel melalui keterangannya kepada awak media, Senin (5/9/2026).
Samuel mengatakan, persoalan karhutla harus dilihat dengan perspektif yang lebih luas dan jangkauan pandang yang lebih jauh ke depan. Pemerintah dan aparat, menurutnya, tidak cukup hanya menghitung jumlah titik panas, tetapi juga perlu menelusuri sumber dan penyebab kebakaran, termasuk kemungkinan adanya unsur kesengajaan untuk mencapai tujuan tertentu.
“Faktor iklim menjelaskan mengapa api lebih mudah berkembang, tetapi tidak selalu menjelaskan dari mana api berasal dan mengapa api bisa bertahan begitu lama. Jika ditarik lebih jauh, harus diperiksa pula kemungkinan adanya faktor kelalaian dan pembiaran. Seperti nasihat orang tua zaman dahulu, api ketika kecil bisa menjadi teman, tetapi akan menjadi musuh ketika sudah membesar,” ujarnya.













