KALTIM || Bedanews.com – Menurut Kardinal, keberadaan OCI memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia.
Pada November 1949, ketika Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan mempertahankan kemerdekaan, Menteri Pertahanan menginisiasi unit pelayanan mental dan rohani bagi anggota Angkatan Perang Republik Indonesia.
Tidak lama kemudian, Gereja Katolik membentuk pelayanan khusus bagi umat Katolik di lingkungan Angkatan Perang.
Kardinal menyebut, pelayanan tersebut memiliki makna sejarah yang kuat. Kehadiran Gereja di tengah prajurit merupakan bentuk dukungan terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menariknya, pelayanan khusus seperti keuskupan militer pada masa itu hanya terdapat di beberapa negara, antara lain Filipina, Korea Selatan dan Indonesia.
Namun Indonesia memiliki kekhasan. Pelayanan pastoral tidak hanya mencakup anggota militer, tetapi juga anggota kepolisian yang beragama Katolik.
“Keuskupan ini sangat khusus karena di Indonesia tentara dan polisi yang beragama Katolik dilayani secara khusus. Keutuhan pelayanan yang mencakup anggota militer dan polisi ini hanya ada di Indonesia,” kata Kardinal.
Kardinal Suharyo juga mengingatkan, sejarah Gereja Katolik di Indonesia memiliki hubungan erat dengan perjalanan kebangsaan.
Ia menyebut, peran Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ., uskup pribumi pertama, yang dikenal dengan semboyan 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia.
Bagi Kardinal, semboyan tersebut bukan sekadar ungkapan identitas, tetapi merupakan warisan spiritual dan kebangsaan yang harus terus dihidupkan.
“Sejarah itu kami yakini menjadi tanggung jawab sejarah bagi umat Katolik di Indonesia, dan tentu saja secara khusus bagi TNI dan Polri,” tuturnya.
Karena itu, kunjungan ke berbagai satuan TNI dan Polda di Indonesia tidak sekadar agenda silaturahmi.
Ada pesan sejarah yang hendak dirawat. Ada warisan perjuangan yang ingin diteruskan. Dan ada umat yang ingin diyakinkan bahwa Gereja tidak pernah jauh dari perjalanan hidup mereka.
Kardinal juga menjelaskan perjalanan pelayanan pastor dalam lingkungan TNI dan Polri.
Pada masa lalu, Gereja pernah mengutus sejumlah pastor untuk masuk ke institusi TNI dan menjalankan pelayanan sebagai bagian dari lingkungan militer. Seiring perubahan zaman, pola pelayanan tersebut mengalami perkembangan.
Kini, OCI kembali mendorong kehadiran imam yang dapat memberikan perhatian khusus kepada umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri.
Romo Yos Bintoro menjadi salah satu figur yang berperan dalam menguatkan pelayanan tersebut.
Menurut Kardinal, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Seorang imam yang berada di lingkungan militer harus mampu memahami dua bentuk ketaatan: ketaatan sebagai imam kepada Gereja dan ketaatan sebagai prajurit kepada komandan.
“Sebagai imam dia taat kepada uskupnya, tetapi sebagai tentara dia harus taat kepada komandan. Itu kadang-kadang tidak mudah dijalankan,” kata Kardinal.
Namun pengalaman tersebut menunjukkan bahwa, pelayanan pastoral dan pengabdian kepada negara dapat berjalan berdampingan ketika dijalankan dengan integritas.
Kardinal Suharyo mengatakan, perjalanan pastoral ke Balikpapan merupakan bagian dari upaya OCI untuk terus menyapa umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri di berbagai daerah.
Ia berharap, kunjungan serupa dapat dilakukan ke seluruh Indonesia.
Khusus di Kalimantan Timur, pelayanan juga dilakukan bersama Keuskupan Agung Samarinda. Kehadiran Romo Moses Komela Avan sebagai Vikaris Jenderal menjadi bagian dari sinergi pelayanan Gereja di wilayah tersebut.
Pada kesempatan itu, Kardinal juga menyampaikan bahwa, pada sore hari rombongan akan bertemu dan melaksanakan ibadah bersama anggota TNI dan Polri yang beragama Katolik.
Perjumpaan sederhana itu menjadi inti dari seluruh perjalanan pastoral, menyapa umat di tempat mereka bertugas.
Sebab bagi Gereja, seorang polisi atau prajurit bukan semata-mata seragam, pangkat atau jabatan. Dia adalah manusia yang memiliki iman, keluarga, kegelisahan, harapan dan kerinduan untuk mendapatkan kekuatan dalam menjalankan tugas.
Dan di situlah OCI hadir, bukan untuk berpolitik, bukan untuk mengambil alih tugas institusi negara, tetapi untuk merawat hati manusia agar tetap memiliki kasih, integritas dan keberanian dalam menjalankan pengabdian.
Karena ketika tugas negara dijalankan dengan hati yang bersih, profesionalitas bertemu dengan kemanusiaan. Dan ketika iman menjadi sumber kekuatan, pengabdian kepada bangsa dapat menjadi jalan pelayanan kepada sesama. (Red).













