Landasan filsafat pembacaan ini sejatinya berakar kuat dari tradisi pemikiran Barat. Filsuf Jerman, Hans-Georg Gadamer, dalam masterpiecenya Wahrheit und Methode: Grundzüge einer philosophischen Hermeneutik (Tübingen: J.C.B. Mohr [Paul Siebeck], 1960, hlm. 275) menyebut proses pemahaman ini sebagai Horizontverschmelzung atau peleburan cakrawala—pertemuan antara cakrawala historis teks dan cakrawala pembaca zaman sekarang. Pemahaman bukanlah reproduksi pasif, melainkan konstruksi makna yang selalu baru.
Di Indonesia, ide perjumpaan konteks ini digaungkan secara bernas oleh Nurcholish Madjid. Dalam Islam Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992, hlm. 180), Cak Nur menegaskan bahwa sikap dogmatis yang memutlakkan pemahaman keagamaan manusiawi adalah bentuk “syirik kontekstual”. Agama harus mampu menjadi nilai kontekstual yang menjawab keadilan sosial, bukan sekadar komoditas pamer kesalehan simbolis.













