Pendidikan sejatinya adalah proses pembebasan dan humanisasi. Paulo Freire dalam bukunya, Pedagogy of the Oppressed (New York: Continuum, 1970, hlm. 43), menegaskan bahwa pendidikan harus memanusiakan kembali manusia yang teralienasi. Ketika AI mulai mengambil alih peran berpikir analitis, sekolah kita justru masih sibuk melatih siswa menjadi penghapal data—sebuah peran yang sudah pasti dimenangi oleh mesin. RUU Sisdiknas seharusnya memuat arah baru yang meletakkan etika, daya kritis, dan empati sebagai benteng terakhir kemanusiaan kita.
Tradisi intelektual Islam sejatinya telah memberikan peringatan serupa sejak berabad-abad lalu. Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, Ihya’ ‘Ulum ad-Din (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2012, Jilid 1, hlm. 55), mengingatkan bahwa ilmu tanpa penanaman ruh dan akhlak hanya akan melahirkan kesombongan serta kehampaan jiwa. Jika Sisdiknas hanya fokus menghasilkan lulusan yang terampil secara teknis tanpa bekal etika digital yang kuat, kita hanya sedang mencetak ribuan robot bernyawa yang mudah dimanipulasi oleh algoritma.













