Kenyataan menunjukkan, begitu BBM-b termasuk BBM-nb dinaikkan, komoditi lain dan biaya transportasi akan ikut “mendaki”. Akibat lanjutannya kenaikan inflasi. Dalam beberapa hari ke depan bisa saja tarif ojol, ongkos bus dan angkot, transportasi udara serta laut dan sebagainya akan naik, termasuk pelayanan publik lainnya.
Biasanya kenaikan harga ini akan disampaikan dengan penghalusan pilihan diksi yaitu “penyesuaian” harga. Padahal maknanya sama, harga naik. Ini sudah sering diungkapkan oleh para elit dari masa Orba, sekarang, dan boleh jadi ke pemerintahan berikutnya, karena kenaikan harga tersebut tidak berpengaruh signifikan kepada kehidupan keseharian meraka. Biasalah.
Boleh jadi, siapapun elit sosial akan melakukan pilihan diksi yang sama, sehingga kelas ekonomi bawah akan tetap menjadi objek (pilihan diksi) komunikasi. Ungkapan bijak di komunitas Batak mengatakan, “namalo nampunasa hata, naoto tu panggadisan”. Bisa diterjemahkan, orang pandai atau elit atau kelas sosial atas sebagai subjek punya pendapat (mempengaruhi) untuk mengendalikan, sedangkan kelas bawah selalu “terjual” atau menjadi objek.













