Senada dengan Soni, Riki alias Kinoy (34), driver yang baru tujuh bulan menetap di Tasikmalaya, juga merasakan kebingungan terkait skema tarif yang diterapkan perusahaan.
Menurutnya, potongan resmi dari operator tidak menjadi masalah, namun perhitungan tarif jarak jauh yang terkadang lebih murah dibanding jarak dekat dinilai kurang masuk akal.
Kinoy juga memaparkan data penurunan orderan yang sangat signifikan. Jika biasanya ia mampu meraup 15 hingga 20 orderan per hari, kini mendapatkan 10 orderan saja sudah terasa sulit.
“Masa iya dari pagi sampai malam hanya dikasih 3 sampai 5 orderan? Ini sangat disayangkan, apalagi jika bicara soal waktu dan beban moral terhadap keluarga di rumah,” keluh Kinoy.
Kondisi ini memicu desakan dari para driver kepada pihak manajemen operator, khususnya Maxim, agar lebih selektif dan membatasi pendaftaran driver baru.












