Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan dengan rasa bangga pada kebesaran sejarah Demak, saya tidak bisa terus diam. Mencintai Demak berarti tidak boleh memangku tangan melihat tanah kelahiran hancur perlahan. Friedrich Schiller dalam karyanya Über die Aesthetische Erziehung des Menschen in Einer Reihe von Briefen (Reclam, 2004, hlm. 45) mengingatkan kita bahwa kesadaran krisis moral dan kepekaan nurani adalah modal utama manusia untuk memperjuangkan tatanan kehidupan yang lebih adil. Cinta yang tulus tidak hadir dalam wujud pujian manis yang menina-bobokkan para pemangku kebijakan, melainkan dalam bentuk keberanian untuk bersuara lantang.
Kondisi masyarakat akar rumput di pesisir Demak saat ini berada di titik nadir. Ratusan keluarga harus mengganjal lantai rumah mereka setiap dua tahun sekali agar tidak terendam rob. Sawah-sawah produktif berubah menjadi danau air asin mati. Realitas pahit ini merefleksikan teori klasik Garrett Hardin dalam The Tragedy of the Commons (Science Journal, Vol. 162, 1968, hlm. 1243), di mana ruang bersama dan sumber daya alam hancur akibat eksploitasi tak terkendali demi kepentingan segelintir pihak tanpa memperhitungkan batas kelestarian.













