Selama ini, masyarakat di kedua Desa harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk beraktivitas sehari-hari. Terlebih ketika aliran sungai yang memisahkan kedua Desa tidak memungkinkan untuk diseberangi.
“Kalau musim kemarau, warga sudah terbiasa beraktivitas dengan menyeberangi sungai. Namun, saat musim hujan dan debit air meningkat, kondisi tersebut menjadi kendala. Warga terpaksa memutar melalui jalan raya dengan jarak yang cukup jauh untuk beraktivitas, baik dari Desa Jalen menuju Desa Dadapan maupun sebaliknya,” kata Babinsa Jalen Sertu Erwin.
Kondisi yang sama juga dirasakan warga Bungkal. Sebelum Jembatan Garuda dibangun, warga di sana harus berjibaku dengan medan yang penuh risiko. Ketiadaan sarana penyeberangan memaksa warga menyeberangi sungai demi menjalankan aktivitas sehari-hari, mulai dari berangkat sekolah, bekerja, hingga mengakses fasilitas kesehatan.













