Bagi yang mengenal Pram, ini bukan kejutan. Latar belakangnya sebagai aktivis mahasiswa dan ketua SATGAS pertama di ITB adalah modal kuat yang mengantarkannya dalam perjalanan panjang di dunia politik.
Pram, mahasiswa ITB angkatan 1982 jurusan Teknik Pertambangan, adalah bagian dari generasi yang masih merasakan imbas pembubaran Dewan Mahasiswa (DM) ITB pada tahun 1978. Meski DM dibubarkan, semangat gerakan mahasiswa tak pernah padam. Kampus-kampus, termasuk ITB, tetap menjadi arena perlawanan. Ketua-ketua himpunan di ITB saat itu bersatu membentuk Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM), yang fokus utamanya adalah mengadvokasi para pimpinan mahasiswa yang ditangkap oleh rezim Orde Baru.
Pada 1985, ITB menjadi saksi aksi besar mahasiswa menentang rally mobil, yang dianggap menghabiskan subsidi BBM secara berlebihan. Rally ini digelar hampir setiap minggu di kota-kota besar seperti Medan, Jakarta, dan Surabaya, bahkan di perkebunan Sumatra dan Kalimantan. Demonstrasi ini menyebabkan Ketua KPM, Dedy Triawan, dipecat oleh Rektor ITB, Hariadi Supangkat, yang berada di bawah tekanan besar. Namun, tekanan kampus dan rezim Orde Baru tak mampu meredam semangat kritis mahasiswa. Pemecatan itu justru memicu demonstrasi besar saat kunjungan Presiden Prancis, Francois Mitterrand, ke ITB pada September 1986.










