Kunjungan kenegaraan Mitterrand ke ITB kala itu tak disambut dengan karangan bunga atau musik angklung. Sebaliknya, mahasiswa menyajikan pertunjukan teatrikal yang simbolis: mereka memotong bebek petelur, menggambarkan “bunuh diri kelas”. Ide ini muncul dari diskusi para aktivis, salah satunya Pram, yang menyarankan agar simbol ayam (yang diasosiasikan dengan Prancis) diganti dengan bebek.
Pesan moral dari aksi itu jelas: mahasiswa bukanlah “bebek petelur” yang hanya dihargai saat produktif. Kampus seharusnya melahirkan pemimpin masa depan, bukan sekadar tenaga kerja. Setelah aksi ini, Rektor ITB diundang bertemu dengan Presiden Soeharto di Bina Graha. Sebelum pertemuan, Soeharto mendapat nasihat dari Mitterrand untuk memperhatikan mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa. Dalam pertemuan tersebut, Soeharto berpesan agar rektor tidak terlalu keras terhadap mahasiswa, yang kemudian melonggarkan kegiatan kemahasiswaan di ITB.












