“Agama tidak boleh diselewengkan untuk kepentingan tertentu. Masyarakat harus memahami bahwa agama dibuat untuk kedamaian masyarakat, tidak ada pemaksaan, ataupun kekerasan. Apabila sikap sikap yang bertentangan dengan agama dibiarkan hal ini akan mengganggu persaudaraan, kebinekaan, dan rasa kebangsaan,” ucap KH. Buya, Jum’at (25/6).
Pihaknya menjelaskan bahwa, agama mengajarkan kita untuk hidup damai di dunia maupun akhirat. Damai lahir maupun batin. Agama mengajarkan untuk saling menghargai sehingga menciptakan ketenangan dan ketentraman dalam bermasyarakat.
Oleh sebab itu, pihaknya menghimbau kepada masyarakat, yang saat ini telah terkontaminasi dengan intoleransi, radikalisme, harus merenungi kembali.
“Kita hidup di dunia ini hanya sementara, dan agama merupakan pelita,” pungkas KH. Buya yang juga merupakan Wakil Ketua MUI Kab Sukabumi













