Untuk memahami lebih dalam model ekonomi berbasis nilai, penting melihat ekonomi dari sudut pandang filsafat manusia. Dalam tradisi filsafat klasik, manusia tidak dipahami sekadar sebagai makhluk rasional yang mengejar keuntungan, tetapi sebagai makhluk moral yang memiliki kesadaran akan makna hidup.
Filsuf Aristoteles dalam karya Nicomachean Ethics menegaskan bahwa tujuan aktivitas manusia bukan hanya keuntungan, melainkan pencapaian eudaimonia, yaitu kehidupan yang baik dan bermakna,karena aktivitas ekonomi tidak dapat dipisahkan dari etika. Maka ekonomi seharusnya menjadi sarana untuk mencapai kehidupan yang bermartabat, bukan sekadar aktivitas untuk mengakumulasi kekayaan.
Pandangan serupa juga muncul dalam pemikiran filsafat sosial modern. Amartya Sen, ekonom sekaligus filsuf, mengkritik pendekatan ekonomi yang terlalu sempit dalam memandang manusia. Menurut Sen, pembangunan ekonomi harus memperhatikan capability, yaitu kemampuan manusia untuk menjalani kehidupan yang bernilai. Ekonomi Ramadhan menunjukkan bahwa manusia tidak selalu bertindak sebagai homo economicus yang hanya mengejar keuntungan maksimal. Banyak pelaku usaha kecil yang tetap mempertahankan nilai kejujuran, kepedulian, dan empati, meskipun secara teoritis dapat memperoleh keuntungan lebih besar melalui cara lain. Praktik yang memperlihatkan bahwa ekonomi sebenarnya merupakan refleksi dari nilai-nilai kemanusiaan sejati.













