Bandung, BEDANews.com – Seorang yang ikhlas dapat dikatakan sebagai seorang yang religius-spiritual. Seorang yang religius, adalah seorang yang prososial karena mudah berempati, jujur, adil, dan menunjukkan penghargaan pada norma-norma prososial. Perilaku yang ditunjukkan dalam konteks sosial adalah perilaku menolong, altruisme, serta memiliki sikap anti-kekerasan dan menghindari konflik. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila ikhlas dimaknai dalam wujud manifetasi dan efeknya yaitu sebagai perilaku menolong. (Barrett&Schnitker, 2008).
Hasil studi menunjukkan bahwa ikhlas merupakan sebuah konstruk psikologi yang independen, dan berbeda dengan konstruk psikologi yang telah ada seperti metaneeds Maslow dan prososial. Ketiga konstruk tersebut (ikhlas, metaneeds, dan prososial) secara umum sama-sama mengusung sebuah wacana yang normatif-idealis, dan secara khusus ada kedekatan konstruk antara ikhlas dengan metaneeds Maslow. Akan tetapi terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya. Perbedaan tersebut terletak pada asumsi dasar mengenai konsep diri.Ikhlas memandang manusia sebagai seorang hamba, hamba dari Tuhan. Implikasinya adalah nilai-nilai khas dalam agama sebagai lembaga Tuhan, tidak dapat dikesampingkan. Sementara metaneeds, sebagaimana dijabarkan oleh Goble memandang manusia sebagai master of life yang meliputi segenap potensi besar, merdeka, humanis, memisahkan antara spiritualitas dengan religiusitas, serta menolak asumsi manusia sebagai budak. Intinya ikhlas merupakan suatu kondisi mental yang berkaitan dengan proses berideologi sebagai hamba Tuhan.













