Ikhlas ditandai dengan otonomi diri dari kehidupan sosial, serta ketiadaan pamrih dalam melakukan perbuatan. Kehidupan sosial dimaknai sebagai sebuah tanggung jawab bukan sebagai kebutuhan (misal kebutuhan berafiliasi) atau sumber reward (status sosial, popularitas). Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dikatakan, bahwa seorang yang ikhlas akan memiliki independensi diri, tidak mudah terpengaruh oleh situasi sehingga memiliki kondisi mental yang stabil. (Chizanah,2011);
Imam al-Ghazali menyatakan, semua manusia sebenarnya celaka, kecuali yang berilmu. Ilmuwan juga celaka, kecuali yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Yang disebutkan terakhir ini pun celaka, kecuali yang menghiasi diri mereka dengan sifat ikhlas. Ringkasnya, selama seorang Muslim itu menyerahkan dirinya sepenuh hati kepada Allah dengan penuh keikhlasan, maka selama itulah segala gerak gerik dan diamnya, tidur dan jaganya akan dinilai sebagai satu langkah ikhlas dan tulus menuju keridaan Allah.













