Tapi keberanian tidak bisa menggantikan radar yang tidak terintegrasi. Semangat tidak bisa menggantikan kapal patroli yang jumlahnya terbatas. Loyalitas tidak bisa menggantikan doktrin pertahanan yang masih reaktif.
Negara kecil seperti Singapura punya sistem kewaspadaan maritim yang terintegrasi dengan rapi. Mereka tahu kapal mana masuk, kapal mana mencurigakan, kapal mana harus direspons. Indonesia? Kita masih sering tumpang tindih antara TNI Angkatan Laut, Bakamla, dan Kementerian Perhubungan.
Akibatnya: kita sering telat. Telat sadar. Telat bertindak. Telat bersuara. Dan dalam politik internasional, keterlambatan adalah kekalahan.
*Saya Tidak Hanya Kritik, Saya Beri Jalan Keluar*
Saya sudah purnawirawan tetapi bukan berarti tidak bisa bersuara. Saya tidak pakai seragam lagi tetapi hati saya masih militer. Jadi saya tidak hanya bicara soal masalah. Saya memberi solusi. Ada empat rekomendasi dari seorang purnawirawan yang masih peduli:













