• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Sabtu, November 7, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » Harga Naik, Rakyat Panik

Harga Naik, Rakyat Panik

Hargib by Hargib
1 Januari 2026
in Ekonomi
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Kenaikan harga sering datang tanpa aba-aba. Tidak diumumkan di ruang rapat, tidak dibacakan dalam pidato resmi. Namun terasa ramai pertama kali di pasar, di warung, di dompet yang semakin tipis. Ketika harga kebutuhan pokok naik beruntun, kepanikan sosial pun muncul bukan karena masyarakat irasional, tetapi karena rasa aman terhadap ekonomi terganggu.

Panik bukan sekadar reaksi emosional. Dalam ilmu ekonomi dan manajemen, kepanikan adalah sinyal kegagalan sistem yang muncul ketika masyarakat tidak lagi percaya bahwa mekanisme pasar dan kebijakan negara dianggap belum mampu melindungi kebutuhan dasar ekonomi warganya.

Ketika Harga Menjadi Isu Psikologis

BeritaTerkait

FOTO BERSAMA: Asep Herman (tengah) dengan para tim promotor dan Penguji usai Sidang Promosi Doktor di Pascasarjana UIN SGD Bandung/Jumat,30/10/2026/Dok.Bedanews.com/yadi

Riset Tentang MBG Gunakan Metode TAMKIN, Asep Herman Raih Doktor Hukum Islam

31 Oktober 2026

APBD Jabar 2027 Harus Berdampak Nyata Bagi Kesejahteraan Masyarakat*

30 Oktober 2026

Variabel harga tidak hanya menjadi persoalan ekonomi semata, tetapi juga permaslahana psikologi kolektif. Begitu harga pangan naik, masyarakat merespons dengan perubahan perilaku yang membeli berlebihan, menunda belanja produktif, menarik tabungan, dan menyimpan uang secara defensif. Dalam ekonomi perilaku, hal ini disebut sebagai loss aversion yakni ketakutan kehilangan lebih besar daripada harapan untuk memperoleh. Namun Masalahnya adalah kepanikan sering memperparah keadaan. Permintaan melonjak sesaat, pasokan menjadi terganggu, dan harga naik lebih tinggi. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa inflasi bukan hanya soal suplai dan uang beredar, lebih dari itu menjadi persoalan kepercayaan.

Page 1 of 4
12...4Next
Tags: Ekonomi IslamHarga NaikKepanikan soasilPancasikaRakyat PanikTata Kelola
Previous Post

Panglima TNI Monitoring Pengamanan Malam Tahun Baru 2026, TNI Kerahkan Ribuan Personel dan Alutsista

Next Post

Resolusi Awal 2026: Menata Niat, Menguatkan Takwa, dan Menjadi Pribadi yang Bermanfaat

Related Posts

FOTO BERSAMA: Asep Herman (tengah) dengan para tim promotor dan Penguji usai Sidang Promosi Doktor di Pascasarjana UIN SGD Bandung/Jumat,30/10/2026/Dok.Bedanews.com/yadi
Ekonomi

Riset Tentang MBG Gunakan Metode TAMKIN, Asep Herman Raih Doktor Hukum Islam

31 Oktober 2026
Ekonomi

APBD Jabar 2027 Harus Berdampak Nyata Bagi Kesejahteraan Masyarakat*

30 Oktober 2026
Ekonomi

Kolaborasi YBM BRILiaN dan Lokadesa, 350 Warga Rentan di Jabar Jadi Sasaran Bantuan Pangan

29 Oktober 2026
Ekonomi

Pilkades Digital 92 Desa di Kabupaten Sumedang Lancar

28 Oktober 2026
Edukasi

Bunda Yana: Prioritas BKAD Perhatikan Kesiapan Kegiatan dan Kualitas Hasil Pembangunan

28 Oktober 2026
Ekonomi

DPRD Jabar Pastikan Penyusunan APBD TA 2027 Efektif, Akuntabel, dan Relevan Dengan Kebutuhan Pembangunan Masyarakat

28 Oktober 2026
Next Post

Resolusi Awal 2026: Menata Niat, Menguatkan Takwa, dan Menjadi Pribadi yang Bermanfaat

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021