Oleh : Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Kenaikan harga sering datang tanpa aba-aba. Tidak diumumkan di ruang rapat, tidak dibacakan dalam pidato resmi. Namun terasa ramai pertama kali di pasar, di warung, di dompet yang semakin tipis. Ketika harga kebutuhan pokok naik beruntun, kepanikan sosial pun muncul bukan karena masyarakat irasional, tetapi karena rasa aman terhadap ekonomi terganggu.
Panik bukan sekadar reaksi emosional. Dalam ilmu ekonomi dan manajemen, kepanikan adalah sinyal kegagalan sistem yang muncul ketika masyarakat tidak lagi percaya bahwa mekanisme pasar dan kebijakan negara dianggap belum mampu melindungi kebutuhan dasar ekonomi warganya.
Ketika Harga Menjadi Isu Psikologis
Variabel harga tidak hanya menjadi persoalan ekonomi semata, tetapi juga permaslahana psikologi kolektif. Begitu harga pangan naik, masyarakat merespons dengan perubahan perilaku yang membeli berlebihan, menunda belanja produktif, menarik tabungan, dan menyimpan uang secara defensif. Dalam ekonomi perilaku, hal ini disebut sebagai loss aversion yakni ketakutan kehilangan lebih besar daripada harapan untuk memperoleh. Namun Masalahnya adalah kepanikan sering memperparah keadaan. Permintaan melonjak sesaat, pasokan menjadi terganggu, dan harga naik lebih tinggi. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa inflasi bukan hanya soal suplai dan uang beredar, lebih dari itu menjadi persoalan kepercayaan.










