Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Suatu sore di sebuah kedai kopi kekinian, seorang kawan tiba-tiba menyenggol lengan saya. Dengan nada setengah berbisik, ia bertanya, “Bro, kalau kita mengartikan teks agama pakai hermeneutika, iman kita bisa goyah, ya?” Pertanyaan polos itu membuat saya tersenyum, tetapi sekaligus prihatin. Di era di mana semua orang bebas berpendapat, ada satu kata yang mendadak jadi momok menakutkan: hermeneutika. Padahal, hermeneutika secara sederhana hanyalah seni membaca dan memahami teks agar tak salah tangkap. Lantas, mengapa publik modern kerap diserang kepanikan moral setiap kali mendengar istilah ilmiah ini?
Ketakutan kolektif inilah yang secara sosiologis-akademis dikenal sebagai phobia hermeneutika modern. Fenomena ini tidak muncul dari ruang hampa, melainkan lahir dari trauma sejarah kekuasaan dan cara pandang yang terlalu kaku. Di Nusantara, kecemasan terhadap tafsir kontekstual sebenarnya sudah dikritik tajam oleh Nurcholish Madjid dalam bukunya Islam, Doktrin, dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 1992, hlm. 180). Cak Nur menyoroti bagaimana kecenderungan berpikir harfiah kerap menjebak umat dalam stagnasi pemikiran. Ketika teks dibaca secara tekstual tanpa mempertimbangkan latar belakang sejarahnya, pemikiran menjadi kaku dan mudah menyalahkan hal baru.
Secara historis-filosofis, ketakutan ini berakar dari tradisi Barat maupun Timur. Di Jerman, Friedrich D.E. Schleiermacher dalam karya klasiknya Hermeneutik und Kritik (Frankfurt am Main: Suhrkamp, 1977, hlm. 75) menegaskan bahwa tujuan utama hermeneutika adalah menghindari kesalahpahaman (missverstรคndnis). Menggunakan hermeneutika bukanlah bentuk pembangkangan terhadap teks, melainkan usaha serius untuk menangkap pesan terdalam penulisnya secara utuh. Namun, ketika hermeneutika merambah ke dunia Islam, sebagian kalangan justru menganggapnya sebagai “penyelundupan tradisi Barat”. Padahal, pemikir Arab seperti Nashr Hamid Abu Zayd dalam Mafhum al-Nass: Dirasah fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, 1994, hlm. 95) justru membuktikan bahwa teks selalu berinteraksi dengan realitas budayanya. Menolak interpretasi kontekstual sama saja dengan mengurung teks agama dalam ruang hampa yang mati.
Di era media sosial yang serba cepat ini, phobia hermeneutika semakin diperparah oleh budaya literasi dangkal. Orang-orang lebih menyukai slogan singkat ketimbang perdebatan mendalam. Hans-Georg Gadamer dalam Truth and Method (New York: Crossroad, 1989, hlm. 269) menjelaskan bahwa pemahaman adalah peleburan horizon (fusion of horizons) antara masa lalu pengarang dan masa kini pembaca. Ketika seseorang menolak dialog horizon ini, ia sebenarnya sedang mengalami kecemasan epistemikโrasa takut bahwa kepastian yang selama ini diyakininya akan terguncang. Hal serupa digambarkan oleh sejarahwan Belanda, Karel Steenbrink, dalam Beperkt Zicht: Beelden van de Islam in Nederland (Baarn: Ten Have, 1999, hlm. 42), yang mencatat bagaimana prasangka mental sering kali menghambat terjadinya dialog pemikiran yang sehat.
Pada akhirnya, memelihara phobia hermeneutika hanya akan memperpanjang kebodohan massal. Kita tidak perlu takut pada cara baca yang kritis dan ilmiah. Menafsirkan teks dengan pendekatan modern bukanlah upaya merusak ajaran, melainkan cara kita merawat pesan moral agar tetap bernapas di tengah zaman yang terus berubah. Jika untuk memahami pesan singkat dari gebetan saja kita butuh membaca konteks, mengapa untuk memahami teks-teks besar kehidupan kita justru mendadak buta? Jangan biarkan pikiran kita dipenjara oleh rasa takut untuk memahami.***
Penulis adalah:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).













