• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Kamis, Mei 7, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » H. Yoga Santosa: Pemimpin Hadir untuk Kemaslahatan Rakyat, Pilihannya Tanggungjawab Dunia Akhirat atas

H. Yoga Santosa: Pemimpin Hadir untuk Kemaslahatan Rakyat, Pilihannya Tanggungjawab Dunia Akhirat atas

Ki Agus by Ki Agus
18 Mei 2023
in Tak Berkategori
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KAB. BANDUNG || bedanews.com — Bila pesta demokrasi menjadikan minat orang-orang untuk mengejar jabatan dan berebut kedudukan sebagai obsesi hidup, bahkan tidak sedikit antar saudara sendiri saling sikut dan menyingkirkannya, dikatakan Politisi Senior dari Partai Golkar, H. Yoga Santosa, perbuatan itu sangat membuat dirinya miris. Apalagi harus dengan menghalalkan segala cara.

Yoga tahu politik itu memang dinamis, namun untuk saat ini ia memprediksikannya bukan Benar dan Salah melainkan Menang dan Kalah, dan yang menganut paham atau prinsip ini, sepertinya tidak lengkap rasanya selagi hayat dikandung badan, kalau tidak pernah (walau hanya sesaat) menjadi orang penting, dihormati dan dihargai masyarakat, terutama berorientasi meraup periuk nasi dengan meraih Jabatan baik formal maupun informal.

Ia menvisualisasilan mengenai negeri sendiri, yaitu Indonesia, masih banyak orang orang memandang sebagai sebuah “aset”, karena baik langsung maupun tidak langsung pola pikirnya berkonsekuensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi kepala daerah, gubernur, bupati, walikota, anggota dewan, direktur dan sebagainya merupakan impian dan obsesi kebanyakan orang.

“Mulai dari kalangan politikus, purnawirawan, birokrat, saudagar, pengusaha, tokoh masyarakat, bahkan sampai artis.
Mereka berebut mengejar jabatan tanpa mengetahui ‘siapa sebenarnya dirinya, bagaimana kemampuannya, dan layakkah dirinya memegang jabatan (kepemimpinan)* tersebut,” katanya melalui telepon, Kamis 18 Mei 2023.

BeritaTerkait

Harga Kebutuhan Melejit Masyarakat Menjerit karena Ekonomi Terhimpit

7 Mei 2026
Anggota Komisi IX DPR RI, Teti Rohatiningsih, hadir sebagai pembicara utama dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Taman Tatto, Cilacap

Program MBG Dorong Kualitas Gizi Hingga Kesejahteraan Masyarakat

7 Mei 2026

Parahnya lagi, ia mengemukakan, mereka kurang (tidak) memiliki pemahaman yang benar tentang hakikat kepemimpinan itu sendiri, karena menganggap jabatan adalah keistimewaan, fasilitas, kewenangan tanpa batas, kebanggaan dan popularitas. Padahal jabatan adalah tanggung jawab, pengorbanan, pelayanan, dan keteladanan yang dilihat dan dinilai banyak orang.

Sementara Hakikat Kepemimpinan harus berpedoman pada Al Qur’an dan Hadist yang mrngatur umat Islam sejak awal bagaimana seharusnya memilih dan menjadikan seseorang pemimpin. Menurut Shihab (2002) ada beberapa hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan,

– Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara yang bersangkutan dengan Allah SWT. “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik.” QS. Al-Baqarah (2): 124.

– Kedua, kepemimpinan menuntut keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang.
“Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu”. (QS. Shad (38):22).
Hal senada dikemukakan oleh Hafidhuddin (2003). Menurutnya ada dua pengertian pemimpin menurut Islam yang harus dipahami. Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga dengan ulul amri.

– Ketiga, pemimpin sering juga disebut khadimul ummah (pelayan umat). Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Dengan demikian, hakikat pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang sanggup dan bersedia menjalankan amanat Allah swt untuk mengurus dan melayani umat/masyarakat.

Sementara untuk Kriteria pemimpin, Para ahli sering menelusuri Al-Quran dan Hadits untuk di teliti dan menemukan setidaknya,
ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin.

– Keempat hal tersebut terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu:
1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong.
2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat.
3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh.
4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).
Di dalam Al-Quran pun dijumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya terdapat dalam surat :
As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiya(21): 73.

Yoga memaparkan, sifat-sifat dimaksud adalah,
(1). Kesabaran dan ketabahan. “Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah”. Lihat Q. S. As-Sajdah (32): 24. Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut.
(2). Mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah swt. Lihat Q. S. Al-Anbiya (21): 73, “Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami”. Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan.

Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat.

Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya. (

(3). Telah membudaya pada diri mereka kebajikan. Lihat Q. S. Al-Anbiya(21): 73, “Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat”. Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka.

“Ada syarat lain untuk menjadi pemimpin, Pertama, memiliki aqidah yang benar (aqidah salimah). Kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas (`ilmun wasi`un). Ketiga,
memiliki akhlak yang mulia (akhlaqulkarimah). Keempat, memiliki kecakapan manajerial dan administratif dalam mengatur urusan-urusan duniawi,” ujarnya.

Selanjutnya bagaimana cara mengetahui dalam “Memilih pemimpin”, ia mengungkapkan, dengan mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam Islam serta kriteria dan sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka kita wajib untuk memilih pemimpin sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadits.

“Kaum muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah SAW dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan urusan-urusan agama (akidahnya lemah) atau seseorang yang menjadikan agama sebagai bahan permainan/kepentingan tertentu.
Sebab pertanggungjawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya atau yang memilihnya (masyarakat tersebut),” imbuhnya.

Dengan kata lain masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan mereka adalah “cermin” siapa mereka. Karena kalau salah memilih hanya akan membuahkan penderitaan bagi kita semua. Maka pilihlah atas dasar hati nurani berdasarkan isi bukan karena cangkangna.***

Previous Post

Layanan ‘Halo Polisi’ Polres Metro Tangerang Kota di Gelar di Neglasari dan Cibodas

Next Post

Bakamla RI Buka Operasi Gannet Ke-7 Bersama ABF dan KKP

Related Posts

Ekonomi

Harga Kebutuhan Melejit Masyarakat Menjerit karena Ekonomi Terhimpit

7 Mei 2026
Anggota Komisi IX DPR RI, Teti Rohatiningsih, hadir sebagai pembicara utama dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Taman Tatto, Cilacap
News

Program MBG Dorong Kualitas Gizi Hingga Kesejahteraan Masyarakat

7 Mei 2026
TNI-POLRI

Jembatan Sesek Dinilai Berbahaya, Danrem Untoro Prioritaskan Bangun Jembatan Garuda

7 Mei 2026
TNI-POLRI

Peduli Kesehatan Warga, Babinsa Kodim Ponorogo Aktif Pendampingan Posyandu ILP

7 Mei 2026
Hukum

Sidang Pembunuhan Kacab BRI, JPU Hadirkan Saksi dari Perkara yang Sama

7 Mei 2026
TNI-POLRI

Dukung Program Pemerintah Pusat, Kodim Tulungagung Salurkan 28 Unit Kendaraan Roda Tiga untuk KDKMP

7 Mei 2026
Next Post

Bakamla RI Buka Operasi Gannet Ke-7 Bersama ABF dan KKP

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021