Cimahi, BEDAnews
Berawal dari profesi wartawan mingguan lokal di Jawa Barat, H. Supiyardi, mendapat kepercayaan menjadi balon walikota dari PKS dan melangkah menuju Cimahi satu dalam Pemilukada 2012 ini.
Kepada BEDAnews, Supiyardi menurturkan perjalanan hidupnya. Perjalanan karir politiknya ini diawali dari pinangan PKS. Sebelum menjadi seorang politikus dan salah satu bakal calon walikota, dia sempat menjadi seorang jurnalis sekitar lima tahunan. Lika-liku hidupnya ini terekam lewat wawancara reporter BEDAnews. Berikut kisahnya.
Masa kecil Supitardi diwarnai keprihatinan, anak seorang petani di Desa Ngandong Jawa Tengah ini terpaksa harus berdagang untuk membiayai sekolahnya. Bahkan, dia kerap terlambat masuk kelas, karena harus mengantarkan sapi milik orang tuanya ke sawah. Disamping dia berdagang, keterlambatan masuk sekolah, disebabkan setiap harinya Supiyardi harus mengantarkan Sapi kesawah.
“Jika saya tak menjalankan perintah ayah mengantar sapi, saya sering kena hukuman cambuk, karena ayah saya menerapkan disiplin yang keras kepada anak-anaknya, makanya saya sering terlambat masuk ke sekolah,“ tuturnya.
Menurut Supiyardi, bila dirinya tidak mengantarkan sapi kesawah untuk membajak sawah, orang tua supiyardi selalu menghukumnya dengan cambuk, hingga badannya merah-merah. Keperihatinan Supiyardi, tidak hanya duduk dibangku SD saja, bahkan kata dia, menginjak bangku SMP dan SMA pun, Supiyardi masih tetap sulit dalam kehidupannya, masuk SMP Sanawiah Tahun 1980 maupun SMA Muhammadiyah Tahun 1983 saat itu hanya Rp 75,- Supiyardi tidak sanggup membayarnya. “Akhirnya saya dibantu oleh saudara saya, bahkan untuk membeli seragam dan celana panjang SMA pun, saya sampai minta ketetangga,” paparnya.
Keluar dari SMA, Supiyardi hijrah ke Bandung, dengan tujuan ingin melanjutkan sekolahnya ke Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang sekarang berubah nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Karena terbentur dirinya tidak membawa surat-surat, yang tertinggal dikampungnya, akhirnya dia mencoba dagang asongan, dengan modal Rp. 10.000 pinjam dari kakaknya, yang tinggal di Holis.
Dengan bermodalkan kotak rokok, akhirnya Supiyardi dagang asongan dibundaran Holis, dan tidurpun tidak pulang kerumah kakaknya, tetapi dia tidur di Masjid, bersama pedagang asongan lainnya. Hingga suatu hari dia menjadi seorang penjahit.
Karena nasib mujur, Supiyardi akhirnya diterima kerja dipabrik PT Medan Jaya di daerah Cibaligo Cimahi, sebagai cleaning service. Karena keuletannya, akhirnnya dia meningkat jabatannya dipindahkan kebagian Wassing, lalu kebagian bossing, hingga kebagian obat-obatan.
Berbekal kemampuannnya dibidang menjahit, Supiyardi akhirnya membuka usaha konveksi. Pada tahun 1985, berbagai Kurus dan bimbinganpun dia tempuh untuk mengasah kemampuannya. Dia ikut pula kursus bahasa Inggris di Kuisi, dan pada tahun 1985 itu pula, Supiyardi ikut bimbingan tes di HMI dan daftar di IAIN Ujung Berung, Rp 75.000,-
“Karena pada saat itu saya tidak punya uang, akhirnya batal ikut Bimbingan test tersebut, barulah pada tahun 1986, saya daftar ke UNISBA, mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), disamping saya kuliah, sayapun menjalankan konveksi saya juga sambil mengajar di SMA,” ujar ayah beraanak empat ini.
“Barulah pada tahun 1991, saya berubah haluan, dari konveksi, berubah menjadi Garment, dan sekaligus dipercaya oleh BRI diberi pinjaman sebesar Rp. 50 Juta”. Karena usaha Garmen Supiyardi berjalan makin pesat, akhirnya dirinya disekolahkan oleh BRI dalam bidang eksport Import, dan tahun 1997 Supiyardi sampai diberi pinjaman oleh BRI kembali sebesar Rp 1,5 Milyar.
Tidak hanya itu saja, disamping usahanya makin pesat, Supiyardipun ikut mengelola sebuah Koran mingguan Solid, dengan jabatan sebagai Kepala Biro, dan akhirnya diapun direkrut pula dalam politiknya oleh PKS menjadi calon Legeslatif pada tahun 1998. (M. Fachry)











